Nasib Siapa yang Tahu, Dulu Memilih Sampah, Kini Surya Bin Samid Dipilih Warga jadi Kepala Desa. Foto Dok.Ist/ArieMekarwangi, Lamosai.com — Nasib memang tak ada yang tahu. Hari ini memilah barang bekas untuk menyambung hidup, esok dipercaya ribuan warga untuk memimpin sebuah desa.
Kisah itu kini dijalani Surya bin Samid, yang berhasil memenangkan Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) Mekarwangi 2026. Di balik kemenangan tersebut, tersimpan perjuangan panjang sebuah keluarga yang selama ini menjalani kehidupan sederhana dan jauh dari sorotan.
Sebelum terpilih sebagai kepala desa, Surya bersama istrinya, Ratih Ratna Sari, sehari-hari mengandalkan usaha memilah dan menjual barang bekas.
Surya bertugas mengambil berbagai barang bekas dari kawasan industri. Sesampainya di rumah, barang-barang tersebut seperti kardus, botol plastik, serta material bekas lainnya kemudian dipilah untuk dijual kembali.
Ratih pun tak tinggal diam. Ia ikut turun tangan bersama sang ibu dan sejumlah pekerja yang membantu memilah barang-barang tersebut di tempat usaha yang berada di belakang rumah mereka.
Penghasilan dari usaha itu tidak selalu menentu. Ketika kondisi ramai, hasil penjualan barang bekas bisa mencapai sekitar Rp1,5 juta per minggu. Namun saat sepi, penghasilan keluarga tersebut bisa turun hingga sekitar Rp700 ribu per minggu.
Keluarga Surya juga menjalani kehidupan dalam kesederhanaan. Mereka tinggal di sebuah rumah berukuran sekitar 6 x 8 meter, yang dihuni bersama delapan anggota keluarga.
Di tengah keterbatasan itulah, Surya memberanikan diri maju dalam Pilkades Mekarwangi 2026.
Perjuangan tersebut akhirnya berbuah kepercayaan dari masyarakat.
Dalam pemilihan tersebut, Surya memperoleh 4.117 suara, mengungguli calon petahana yang meraih 4.015 suara.
Selisih suara yang tipis itu mengantarkan Surya ke babak baru dalam kehidupannya. Dari seorang pencari dan pemilah barang bekas, kini ia dipercaya masyarakat untuk mengemban amanah sebagai kepala desa.
Namun, kemenangan tersebut tidak serta-merta membuat keluarga Surya meninggalkan usaha yang selama ini menjadi bagian dari perjalanan hidup mereka.
Ratih mengatakan, usaha memilah barang bekas tetap akan dijalankan. Surya pun berencana mempertahankan usaha tersebut dengan dibantu para pekerja.
Bagi keluarga ini, usaha tersebut bukan sekadar tempat mencari penghasilan. Dari situlah mereka bertahan, bekerja, dan menjalani kehidupan bersama.
Kini, Surya harus menjalani peran baru sebagai pemimpin Desa Mekarwangi.
Dulu tangannya sibuk memilah barang bekas untuk menghidupi keluarga. Kini, kepercayaan ribuan warga menuntutnya memilah dan menentukan arah pembangunan desa.
Nasib memang tak ada yang tahu. Perjalanan Surya menjadi pengingat bahwa kehidupan bisa berubah kapan saja—dari perjuangan sederhana di belakang rumah, menuju amanah besar di tengah masyarakat.(Hr1/*)