Wakil Ketua DPRD Kota Padang Mastilizal Aye, SH mengadakan reses masa sidang I tahun 2026/2027 di Lapangan Yudha Sakti 133 Air Tawar, Kecamatan Padang Utara. Dari Reses ke Lapangan Hijau, Mastilizal Aye: Saatnya Sepak Bola Padang Naik KelasPadang, Lamosai.com – Reses bagi seorang wakil rakyat bukan sekadar duduk di ruangan, mendengar keluhan masyarakat, kemudian mencatat sejumlah aspirasi. Reses adalah momentum untuk turun langsung, melihat persoalan dari dekat, sekaligus memastikan suara masyarakat benar-benar sampai ke meja kebijakan.
Hal itu dilakukan Wakil Ketua DPRD Kota Padang Mastilizal Aye, SH. Dalam reses masa sidang I tahun 2026/2027, ia memilih lapangan hijau sebagai tempat menjemput aspirasi masyarakat, khususnya insan sepak bola Kota Padang.
Kegiatan tersebut berlangsung di Lapangan Sepak Bola Yudha Sakti, 133 Kompi Batalyon Air Tawar, Padang, Sabtu (5/9/2026). Sejumlah insan sepak bola hadir, mulai dari pengurus SSB, atlet, pelatih, official hingga para pecinta olahraga paling populer di dunia tersebut.
Suasana reses pun terasa berbeda. Tidak ada sekat antara wakil rakyat dengan masyarakat. Aspirasi mengalir langsung dari mereka yang setiap hari bergelut dengan pembinaan sepak bola di lapangan.
Sebagai Ketua Askot PSSI Kota Padang, Mastilizal Aye memahami bahwa persoalan sepak bola tidak cukup dilihat dari hasil pertandingan. Di balik sebuah tim yang bertanding, terdapat proses panjang yang dimulai dari pembinaan anak-anak usia dini, ketersediaan lapangan, kualitas pelatih, kompetisi yang berjenjang hingga perhatian terhadap kesejahteraan dan masa depan atlet.
“Reses ini memang tugas kita sebagai anggota DPRD untuk menjemput aspirasi masyarakat. Tapi saya sengaja datang ke lapangan, karena sepak bola ya tempatnya di lapangan. Kita ingin mendengar langsung apa yang menjadi kebutuhan SSB, pelatih, atlet dan insan sepak bola,” ujar Mastilizal Aye.
Menurutnya, Kota Padang sesungguhnya tidak kekurangan talenta sepak bola. Anak-anak yang memiliki kemampuan bermain bola cukup banyak. Persoalannya adalah bagaimana potensi tersebut dibina secara serius, konsisten dan berkelanjutan.
“Kita punya banyak anak-anak berbakat. Jangan sampai bakat mereka berhenti hanya karena tidak ada fasilitas, tidak ada kompetisi, atau pembinaannya tidak berkelanjutan. Anak-anak ini adalah aset Kota Padang. Mereka harus kita siapkan sejak usia dini,” tegasnya.
Mastilizal Aye menilai, pembinaan sepak bola harus memiliki arah yang jelas. SSB tidak boleh hanya menjadi tempat anak-anak bermain bola pada sore hari, tetapi harus menjadi bagian dari sistem pembinaan atlet yang terukur.
Menurutnya, pembinaan usia dini merupakan fondasi. Dari SSB-lah nantinya lahir pemain yang bisa memperkuat klub, membawa nama Kota Padang, bahkan menembus level provinsi, nasional hingga internasional.
“Kita jangan berpikir hari ini anak masuk SSB, besok langsung menjadi pemain hebat. Tidak begitu. Ada proses. Ada latihan, disiplin, kompetisi dan pendampingan. Karena itu SSB harus diperkuat. Pelatihnya harus terus meningkatkan kapasitas, kompetisinya harus ada, dan fasilitas latihannya juga harus memadai,” katanya.
Lebih jauh, Mastilizal Aye melihat sepak bola bukan hanya persoalan olahraga dan prestasi. Di tengah tantangan generasi muda saat ini, olahraga dapat menjadi benteng sosial yang sangat penting.
Ia menyebut, semakin banyak anak dan remaja yang memiliki aktivitas positif, semakin besar pula peluang mereka terhindar dari berbagai perilaku negatif.
“Kita jangan melihat sepak bola hanya dari piala. Ada hal yang jauh lebih besar dari itu. Anak-anak yang sore hari berada di lapangan, latihan, berkeringat, belajar disiplin dan bekerja sama dengan teman-temannya, tentu jauh lebih baik daripada mereka menghabiskan waktu dengan kegiatan yang tidak jelas,” ungkapnya.
Karena itu, ia berharap pembinaan sepak bola di Kota Padang mendapat perhatian secara bersama-sama. Tidak hanya menjadi tanggung jawab PSSI atau pemerintah, tetapi juga membutuhkan keterlibatan klub, SSB, orang tua, pelatih, tokoh masyarakat dan dunia usaha.
“Kalau kita ingin sepak bola Padang naik kelas, tidak bisa bekerja sendiri-sendiri. PSSI tidak bisa sendiri, pemerintah tidak bisa sendiri, DPRD juga tidak bisa sendiri. Kita harus duduk bersama. Apa yang menjadi persoalan kita carikan jalan keluarnya bersama,” tutur Aye.
Ia juga mengingatkan agar jangan sampai pembinaan olahraga hanya berorientasi pada pencapaian sesaat. Menurutnya, prestasi yang kuat harus dibangun dari sistem pembinaan yang konsisten.
“Kita ingin prestasi, tentu. Tapi prestasi itu adalah hasil dari sebuah proses. Kalau proses pembinaannya bagus, kompetisinya hidup, pelatihnya berkualitas dan anak-anak mendapatkan ruang untuk berkembang, insyaallah prestasi akan mengikuti,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, aspirasi para pelaku sepak bola juga menjadi perhatian Mastilizal Aye. Berbagai persoalan yang berkaitan dengan lapangan, pembinaan atlet usia muda, kompetisi, hingga kebutuhan SSB menjadi bahan pembicaraan dalam kegiatan reses tersebut.
Ia berkomitmen membawa aspirasi tersebut ke dalam pembahasan sesuai kewenangan DPRD.
“Apa yang disampaikan hari ini akan kita catat dan kita perjuangkan sesuai dengan kewenangan kita. Jangan sampai masyarakat sudah menyampaikan aspirasi, tetapi setelah itu hilang begitu saja. Reses harus punya tindak lanjut,” tegasnya.
Menurutnya, lapangan sepak bola harus kembali menjadi ruang tumbuh bagi generasi muda Kota Padang. Lapangan bukan hanya tempat mengejar bola, tetapi juga tempat menempa mental, membangun persahabatan, belajar menerima kekalahan dan menghargai kemenangan.
“Saya ingin lapangan-lapangan sepak bola di Kota Padang kembali ramai oleh anak-anak muda. Kita ingin mereka punya mimpi. Ada yang bercita-cita menjadi pemain profesional, ada yang menjadi pelatih, wasit, atau pengelola olahraga. Yang penting mereka punya ruang untuk berkembang,” katanya.
Sementara itu, salah seorang peserta reses, Igel, menyambut positif langkah Mastilizal Aye yang memilih lapangan sepak bola sebagai lokasi menjemput aspirasi.
Menurut Igel, kehadiran langsung wakil rakyat di tengah pelaku sepak bola memberikan ruang yang lebih luas bagi mereka untuk menyampaikan kondisi sebenarnya yang dihadapi di lapangan.
“Kami tentu sangat mengapresiasi. Aspirasi kami bisa disampaikan langsung, bukan hanya bicara di atas kertas. Kami berharap perhatian terhadap SSB, atlet dan pelatih semakin besar, karena di sinilah anak-anak Padang dibina,” ujarnya.
Ia berharap hasil reses tersebut benar-benar ditindaklanjuti sehingga pembinaan sepak bola Kota Padang semakin terarah.
Reses di Lapangan Yudha Sakti itu akhirnya bukan sekadar agenda menyerap aspirasi. Ia menjadi pertemuan antara harapan, talenta dan kebijakan.
Dari lapangan hijau inilah tekad itu disatukan: sepak bola Kota Padang tidak boleh jalan di tempat. Pembinaan harus diperkuat, kompetisi harus dihidupkan, fasilitas harus diperhatikan, dan generasi muda harus diberikan ruang untuk bermimpi.
Sebab, sebelum sebuah nama besar lahir di stadion megah, selalu ada anak-anak yang memulai mimpinya dari sebuah lapangan sederhana.(Hr1)
