Pasaman, Lamosai.com- Lima puluh tahun bukan sekadar angka dalam lintasan waktu. Ia adalah titik sunyi yang memaksa seseorang berhenti sejenak. Menyusun ulang serpihan perjalanan, menimbang makna dari setiap keputusan, dan membaca ulang arah yang telah ditempuh.
Bagi Sabar AS, usia ini bukan hanya perayaan biologis, melainkan momentum intelektual dan moral untuk menguji kembali relevansi jalan yang dipilihnya.
Lahir dari Simaroken, Rao, Pasaman, pada 1 Mei 1976, Sabar AS tidak tumbuh dalam ruang yang instan. Kepemimpinannya dibentuk melalui proses panjang yang berlapis. Dari bangku kampus, ia menempuh jalur kaderisasi yang tidak ringan di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).
Di sana, kepemimpinan bukan sekadar gelar, tetapi hasil dari tempaan gagasan, perdebatan, dan disiplin organisasi. Perannya sebagai Presiden Mahasiswa, Ketua Umum BADKO HMI Sumbar, hingga Wasekjend PB HMI menunjukkan satu hal " ia tidak datang tiba-tiba, melainkan ditempa oleh sistem yang menuntut ketahanan berpikir dan keteguhan sikap".
Memasuki gelanggang politik formal, Sabar AS melanjutkan perjalanan itu di DPRD Sumatera Barat selama tiga periode. Rentang waktu yang panjang ini bukan hanya soal bertahan, tetapi tentang bagaimana membaca dinamika, menjaga relevansi, dan terus mengasah perspektif.
Di ruang legislatif, ia belajar bahwa kebijakan bukan hanya teks, melainkan hasil tarik-menarik kepentingan yang harus diolah dengan kecermatan dan keberanian.
Namun, ujian sesungguhnya hadir ketika ia berpindah ke ranah eksekutif—dari Wakil Bupati hingga Bupati Pasaman.
Di titik ini, gagasan tidak lagi cukup dirumuskan; ia harus diwujudkan. Di sinilah tampak perbedaan pendekatan yang ia bangun. Ketika banyak daerah terjebak pada narasi keterbatasan—terutama soal PAD—Sabar AS justru memilih bertolak dari potensi.
Ia menggeser sudut pandang: dari keluhan menuju kemungkinan. Pendekatan ini terlihat dalam arah kebijakannya. Program Pasaman Berimtaq, misalnya, tidak berhenti pada simbol religiusitas.
Tetapi diterjemahkan dalam langkah konkret—penguatan pendidikan karakter, dukungan terhadap guru tahfiz, hingga penghidupan ruang-ruang keagamaan. Ini menunjukkan bahwa pembangunan, baginya, bukan hanya soal infrastruktur, tetapi juga pembentukan nilai.
Di sektor ekonomi, keberanian keluar dari pola lama semakin terlihat. Pariwisata didorong sebagai mesin pertumbuhan baru, bukan sekadar pelengkap.
Pilihan ini mengandung logika yang lebih dalam bahwa kekuatan daerah tidak selalu harus dicari keluar, tetapi bisa ditemukan dari apa yang telah dimiliki—asal ada keberanian untuk mengelolanya dengan cara berbeda.
Jika dirunut, perjalanan Sabar AS memperlihatkan satu garis yang tidak terputus: kesinambungan antara proses, pengalaman, dan gagasan. Ia bergerak dari aktivisme, masuk ke sistem, lalu mencoba mengarahkan sistem itu sendiri. Tidak semua pemimpin mampu menjaga benang merah ini.
Kini, di usia 50 tahun, refleksi itu menjadi lebih dari sekadar mengenang. Ia berubah menjadi pertanyaan terbuka: sejauh mana arah yang dibangun telah memberi dampak, dan sejauh mana keberanian untuk berbeda itu mampu bertahan di tengah tekanan realitas.
Pada akhirnya, kepemimpinan tidak diukur dari berapa lama seseorang berada di kursi kekuasaan, tetapi dari bagaimana ia membaca persoalan—dan seberapa berani ia keluar dari pakem untuk menawarkan jalan lain.
Di titik inilah, perjalanan Sabar AS menemukan maknanya: bukan hanya tentang apa yang telah dicapai, tetapi tentang keberanian untuk tidak berjalan di jalur yang biasa.(Hr1/**)
