Padang, Lamosai.com — Ketua Umum Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM) Sumatera Barat, Prof. Dr. H. Fauzi Bahar, M.Si mengeluarkan himbauan resmi kepada seluruh masyarakat Minangkabau terkait dugaan penghinaan terhadap masyarakat Sumatera Barat dan suku Minangkabau yang belakangan menjadi perhatian publik.
Dalam himbauannya tertanggal 27 Mei 2026, Prof Fauzi Bahar mengajak seluruh urang awak, baik di ranah maupun di rantau, agar tetap mengedepankan sikap tenang, bijaksana, serta tidak mudah terprovokasi oleh isu yang dapat memecah persatuan.
Berlandaskan filosofi adat Minangkabau “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah”, LKAAM menegaskan bahwa setiap persoalan harus diselesaikan melalui jalur hukum dan musyawarah yang beradab, bukan dengan emosi ataupun tindakan yang bertentangan dengan aturan hukum.
“Minangkabau dikenal sebagai masyarakat yang menjunjung tinggi nilai peradaban, penghormatan, dan toleransi. Karena itu, mari kita jaga marwah adat dan nama baik urang awak dengan sikap santun serta bermartabat,” demikian pesan yang disampaikan dalam himbauan tersebut, Juma'at (29/5/2026).
LKAAM juga meminta masyarakat mempercayakan sepenuhnya proses penanganan persoalan kepada aparat penegak hukum. Dugaan penghinaan yang disampaikan oleh Permadi Arya alias Abu Janda disebut telah dilaporkan secara resmi oleh Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Keluarga Minang (IKM) dan kini tengah berproses sesuai ketentuan hukum yang berlaku.
Tak hanya itu, Prof Fauzi Bahar turut mengingatkan masyarakat agar lebih bijak menggunakan media sosial dan tidak menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya. Menurutnya, media sosial jangan sampai menjadi ruang memperkeruh suasana ataupun memantik konflik baru di tengah masyarakat.
Dalam poin himbauannya, LKAAM juga mengajak para tokoh adat, alim ulama, cadiak pandai, bundo kanduang, pemuda hingga perantau Minangkabau untuk tampil sebagai penyejuk dan perekat persaudaraan.
Suara LKAAM kali ini menjadi penegas bahwa kekuatan masyarakat Minang bukan terletak pada kemarahan, melainkan pada kebesaran adat, kecerdasan dalam menyikapi persoalan, serta kemampuan menjaga persatuan di tengah dinamika zaman.
“Urang Minang indak kurang garang, tapi lebih mulia ketika mampu menahan diri demi marwah dan persatuan,” menjadi semangat yang terasa kuat dalam himbauan tersebut, terangnya.(Hr1)
