Terik mentari tak menyurutkan langkah warga Perumahan Banda Gadang Permai, RT 07 RW 01, Kelurahan Tabing Banda Gadang, Kecamatan Nanggalo, untuk berkumpul dan menyuarakan harapan. Reses ini menjadi ruang harapan kepada sang wakil Rakyat. Arie St Malin MudoPadang, Lamosai.com — Terik mentari tak menyurutkan langkah warga Perumahan Banda Gadang Permai, RT 07 RW 01, Kelurahan Tabing Banda Gadang, Kecamatan Nanggalo, untuk berkumpul dan menyuarakan harapan.
Di tengah kondisi yang masih dibayangi dampak bencana, kehadiran Wakil Ketua DPRD Kota Padang, Mastilizal Aye, dalam agenda Reses Masa Sidang III Tahun 2026, Senin (4/5/2026), disambut haru sekaligus penuh harap.
Reses kali ini bukan sekadar agenda seremonial. Mastilizal Aye sengaja menghadirkan unsur teknis dari Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Perkim), pihak kelurahan, hingga konsultan perencana. Langkah ini menjadi penegasan bahwa aspirasi warga tidak hanya didengar, tetapi langsung ditindaklanjuti secara konkret di lapangan.
“Persoalan utama di sini adalah drainase. Hujan setengah jam saja, air sudah masuk ke rumah warga. Ini tidak bisa dibiarkan,” tegas Aye di hadapan warga.
Ia mengakui, dampak bencana yang melanda Kota Padang beberapa waktu lalu masih menyisakan persoalan serius, terutama di kawasan Tabing Banda Gadang. Sejumlah titik seperti Griya Permata, Banda Gadang Permai, hingga Kubu Utama masih kerap dilanda genangan saat hujan turun.
Karena itu, reses ini dimanfaatkan sebagai forum verifikasi langsung. Tim Perkim bersama konsultan diminta segera melakukan survei lapangan dan menyusun perencanaan teknis.
“Besok tim langsung turun survei. Kita targetkan, jika tidak ada kendala, akhir Juni pengerjaan drainase sudah bisa dimulai,” ujarnya.
Tak hanya fokus pada infrastruktur, sentuhan kemanusiaan juga hadir dalam kegiatan tersebut. Ketua PMI Kota Padang, Zulhardi Z Latif, yang turut mendampingi, menyerahkan bantuan kepada 60 kepala keluarga berupa pakaian dan susu formula bagi balita.
“Ini bentuk kepedulian kami. Semoga bisa sedikit meringankan beban warga,” kata Zulhardi.
Di sisi lain, suara warga mencerminkan luka yang belum sepenuhnya pulih. Trauma banjir bandang yang terjadi pada November 2025 masih membekas. Kekhawatiran akan banjir kembali menghantui setiap kali hujan turun.
“Hujan sedikit saja sudah banjir, Pak. Kami mohon segera diperbaiki, baik jalan maupun drainasenya,” ungkap salah seorang tokoh masyarakat dengan nada penuh harap.
Menutup pertemuan, Mastilizal Aye mengajak warga untuk tetap menjaga kesabaran dan memperkuat komunikasi dengan semua pihak.
“Masalah ini kita selesaikan bersama. Tidak perlu saling menyalahkan. Yang penting ada solusi dan langkah nyata,” pungkasnya.
Di bawah terik yang menyengat, reses ini menjelma menjadi lebih dari sekadar agenda rutin. Ia menjadi ruang temu antara harapan warga dan komitmen wakil rakyat—sebuah langkah kecil menuju kepastian yang selama ini dinanti.(Hr1)
